BTCClicks.com Banner

Sunday, December 29, 2013

Bayi Indonesia dengan A+ Para Bombay, Paling Langka di Dunia

Pernah dengar golongan darah  A+ Para Bombay? Inilah tipe yang paling susah dicari karena kemungkinannya 4:1 juta orang di dunia. Maka ketika seseorang dengan Para Bombay membutuhan transfusi, perlu perjuangan panjang agar nyawanya selamat. Misalnya pada kasus bayi bernama Maryam di Jakarta berikut ini.


Maryam terlahir 15 Desember 2013 di Rumah Sakit Hermina Jatinegara, Jakarta Timur. Saat masih dalam kandungan, Maryam positif suspect anemia hidrofetuli sehingga harus dilahirkan sebelum waktunya. Saat itu Maryam masih berumur 32 minggu dalam kandungan. Karena takut mengalami hal yang sama dengan kakak-kakaknya, akhirnya Rini disarankan untuk segera menjalani operasi Caesar.

 


Sebab, kakak kedua Maryam meninggal karena penyakit darah tersebut. Setelah dilahirkan, sang kakak ternyata mengalami anemia dengan kandungan hemoglobin yang sangat rendah, yaitu 3,5. Hal serupa dialami anak keempat Rini yang didiagnosis menderita anemia hidradenitis sehingga terpaksa digugurkan saat masih di dalam kandungan.

"Anak kedua dan keempat saya meninggal karena anemia. Anak ketiga saya juga meninggal. Dokter memperkirakan karena saya kelelahan," ujar Rini. Namun setelah pemeriksaan anak kelimanya itu, dia curiga anak ketiganya juga meninggal karena penyakit darah tersebut.

Sebelumnya, Rini divonis mengalami hiperagregasi trombosit. Trombositnya cenderung mudah melakukan agregasi sehingga darahnya menjadi kental. Mengetahui hal itu, akhirnya Rini mengonsumsi pengencer darah agar asupan makanan kepada sang anak lancar. "Saya pikir masalah selesai di situ. Tapi, ternyata ada masalah lain," ungkapnya.

Permasalahan sesungguhnya justru muncul saat Rini akan dioperasi dalam proses persalinan Maryam. Karena takut terjadi pendarahan, pihak rumah sakit mengantisipasi dengan menyiapkan cadangan darah. Darah Rini pun diambil untuk dites di Palang Merah Indonesia (PMI), kemudian dicarikan darah yang cocok dengan miliknya.

Dari situlah diketahui bahwa Rini memiliki golongan darah langka. Yakni, A dengan rhesus positif. Sudah puluhan kantong darah dicocokkan dengan milik Rini, namun tidak ada satu pun yang cocok. PMI pun curiga. PMI pusat langsung melakukan berbagai tes pada darah Rini.

Mengetahui hal itu, dokter akhirnya meminta Rini langsung menjalani tes direct comb. Tujuannya, mengetahui apakah antibodi sang ibu masuk ke dalam tubuh si anak. Hasilnya positif. "Saat itulah diketahui saya memiliki darah A+ Para-Bombay dengan antibodi yang sudah terbentuk. Itulah yang mengakibatkan anak saya terkena anemia," tuturnya.

Mengetahui hal itu, kontan suami Rini, Taufiq Wirahman, 42, shock. Selain minimnya informasi mengenai golongan darah tersebut, dokter menginformasikan bahwa golongan darah tersebut langka. Tapi, hal itu tidak terlalu menjadi masalah. Ternyata, proses operasi Rini lancar dan pendarahan berhasil dicegah. Kelegaan seketika menghampiri pasangan tersebut.

Namun, kelegaan itu terasa hanya seperti fatamorgana. Masalah justru muncul pada si bayi. Maryam yang lahir dengan berat 2.070 gram dan panjang 42 cm itu memiliki HB rendah serta bilirubin yang sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat tubuh Maryam kecil menguning.

Darah bayi perempuan itu langsung dites. Lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak pada Rini dan keluarganya. Persediaan darah di PMI yang sesuai dengan golongan darah Maryam ternyata sedang kosong.

Rini dan suami langsung mengontak semua kenalannya untuk meminta bantuan. Banyak donor yang datang untuk mendonorkan darah mereka. Sayangnya, tidak ada satu pun yang darahnya sesuai. Maryam memiliki golongan darah A+, sama dengan sang ibu.

Hal itu kontan memunculkan dugaan bahwa Maryam juga memiliki golongan darah Para-Bombay. Akhirnya, Maryam diperiksa lebih detail. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan sang ibu.

Mendengar hal itu, Rini langsung bersedih. Dia dan suami yang sejak awal tahu golongan darah itu langka hanya bisa pasrah. Namun, bantuan dari berbagai pihak membuat pasangan itu bangkit. Rini dan Taufiq langsung membuat poster dan pengumuman melalui media sosial untuk mencari orang dengan golongan darah yang sama.


Singapura tak mau menolong.
PMI memberi data bahwa hanya ada satu orang Indonesia yang memiliki golongan darah tersebut. Celakanya, orang tersebut ada di Eropa dan tak bisa dihubungi. Pencarian pun terus berlanjut. Akhirnya, dia memperoleh informasi bahwa ada salah seorang warga Singapura yang memiliki golongan darah yang sama dengan dirinya dan putri kecilnya itu.

Ironis, Pemerintah Singapura tidak memberikan izin. Sebab, golongan darah itu langka. Mereka berdalih akan digunakan untuk dalam negeri sendiri.

Alternatif lain muncul dari PMI. reka menuturkan, menurut literatur, sangat mungkin si anak bisa ditransfusi dengan golongan darah O Bombay. Tapi, saat dicoba, hasilnya gagal. Darah kembali tidak cocok.

 


Keadaan itu kontan memaksa semua kepala kembali berpikir untuk mencari jalan keluar. Hingga akhirnya, PMI menyarankan untuk mencoba dari keluarga terdekat. Rini mengaku sangat ingin mendonorkan darahnya. Tapi, dokter melarang. Sebab, setelah menjalani operasi Caesar, darah Rini masih rendah.

Sampai akhirnya Rini teringat pada adiknya yang tinggal di desa. Singkat cerita, si adik pun dipanggil ke Jakarta. Darah sang adik ternyata cocok dengan darah anak perempuan Rini. Kejadian itu sangat mencengangkan. Sebab, golongan darah sang adik bukan A+ Para-Bombay, tapi bisa cocok dengan darah Maryam. "PMI juga sangat kaget. Padahal A+, bukan Para-Bombay. Hingga kini belum ada penjelasan detail. Hanya dugaan kedekatan kekerabatan sehingga darahnya cocok," katanya.

Transfer exchange langsung dilakukan dokter. Dengan sangat hati-hati tukar darah itu dilaksanakan pada hari kelima setelah kelahiran Maryam. Menurut Rini, proses tukar darah itu dilakukan secara bertahap. Dokter masih mengantisipasi adanya penolakan yang mungkin muncul saat darah sang paman masuk ke dalam tubuh Maryam. "Alhamdulillah, bilirubinnya turun dan tidak ada penolakan," ungkapnya bahagia.




Para Bombay dari India
Golongan darah ini sebenarnya paling banyak ditemukan di India. Nama Bombay diambil dari peristiwa pertama ditemukannya golongan darah ini. Selain di India, golongan darah tersebut cukup banyak ditemukan di daratan Eropa.

Untuk Indonesia, hingga saat ini tercatat hanya tiga orang yang memiliki golongan darah tersebut. Seorang tengah berada di Eropa serta dua lainnya adalah Rini dan putri mungilnya.

Menurut Wakil Direktur Pelayanan Transfusi Darah PMI Pusat Ria Syafitri,   golongan darah itu sebenarnya cukup banyak di Indonesia. Hanya, hingga kini belum terdeteksi. Bisa jadi mereka belum pernah menjalani tes dan belum memerlukan transfusi darah.

Golongan darah ini berbeda dengan golongan darah umumnya. Jika biasanya antigen yang ditemukan dalam golongan darah normal adalah H besar, pada golongan darah Para-Bombay, antigennya berupa h kecil sehingga tidak bisa dikasih yang biasa.










 






Bayi Indonesia dengan A+ Para Bombay, Paling Langka di Dunia

Pernah dengar golongan darah  A+ Para Bombay? Inilah tipe yang paling susah dicari karena kemungkinannya 4:1 juta orang di dunia. Maka ketika seseorang dengan Para Bombay membutuhan transfusi, perlu perjuangan panjang agar nyawanya selamat. Misalnya pada kasus bayi bernama Maryam di Jakarta berikut ini.


Maryam terlahir 15 Desember 2013 di Rumah Sakit Hermina Jatinegara, Jakarta Timur. Saat masih dalam kandungan, Maryam positif suspect anemia hidrofetuli sehingga harus dilahirkan sebelum waktunya. Saat itu Maryam masih berumur 32 minggu dalam kandungan. Karena takut mengalami hal yang sama dengan kakak-kakaknya, akhirnya Rini disarankan untuk segera menjalani operasi Caesar.

 


Sebab, kakak kedua Maryam meninggal karena penyakit darah tersebut. Setelah dilahirkan, sang kakak ternyata mengalami anemia dengan kandungan hemoglobin yang sangat rendah, yaitu 3,5. Hal serupa dialami anak keempat Rini yang didiagnosis menderita anemia hidradenitis sehingga terpaksa digugurkan saat masih di dalam kandungan.

"Anak kedua dan keempat saya meninggal karena anemia. Anak ketiga saya juga meninggal. Dokter memperkirakan karena saya kelelahan," ujar Rini. Namun setelah pemeriksaan anak kelimanya itu, dia curiga anak ketiganya juga meninggal karena penyakit darah tersebut.

Sebelumnya, Rini divonis mengalami hiperagregasi trombosit. Trombositnya cenderung mudah melakukan agregasi sehingga darahnya menjadi kental. Mengetahui hal itu, akhirnya Rini mengonsumsi pengencer darah agar asupan makanan kepada sang anak lancar. "Saya pikir masalah selesai di situ. Tapi, ternyata ada masalah lain," ungkapnya.

Permasalahan sesungguhnya justru muncul saat Rini akan dioperasi dalam proses persalinan Maryam. Karena takut terjadi pendarahan, pihak rumah sakit mengantisipasi dengan menyiapkan cadangan darah. Darah Rini pun diambil untuk dites di Palang Merah Indonesia (PMI), kemudian dicarikan darah yang cocok dengan miliknya.

Dari situlah diketahui bahwa Rini memiliki golongan darah langka. Yakni, A dengan rhesus positif. Sudah puluhan kantong darah dicocokkan dengan milik Rini, namun tidak ada satu pun yang cocok. PMI pun curiga. PMI pusat langsung melakukan berbagai tes pada darah Rini.

Mengetahui hal itu, dokter akhirnya meminta Rini langsung menjalani tes direct comb. Tujuannya, mengetahui apakah antibodi sang ibu masuk ke dalam tubuh si anak. Hasilnya positif. "Saat itulah diketahui saya memiliki darah A+ Para-Bombay dengan antibodi yang sudah terbentuk. Itulah yang mengakibatkan anak saya terkena anemia," tuturnya.

Mengetahui hal itu, kontan suami Rini, Taufiq Wirahman, 42, shock. Selain minimnya informasi mengenai golongan darah tersebut, dokter menginformasikan bahwa golongan darah tersebut langka. Tapi, hal itu tidak terlalu menjadi masalah. Ternyata, proses operasi Rini lancar dan pendarahan berhasil dicegah. Kelegaan seketika menghampiri pasangan tersebut.

Namun, kelegaan itu terasa hanya seperti fatamorgana. Masalah justru muncul pada si bayi. Maryam yang lahir dengan berat 2.070 gram dan panjang 42 cm itu memiliki HB rendah serta bilirubin yang sangat tinggi. Kondisi tersebut membuat tubuh Maryam kecil menguning.

Darah bayi perempuan itu langsung dites. Lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak pada Rini dan keluarganya. Persediaan darah di PMI yang sesuai dengan golongan darah Maryam ternyata sedang kosong.

Rini dan suami langsung mengontak semua kenalannya untuk meminta bantuan. Banyak donor yang datang untuk mendonorkan darah mereka. Sayangnya, tidak ada satu pun yang darahnya sesuai. Maryam memiliki golongan darah A+, sama dengan sang ibu.

Hal itu kontan memunculkan dugaan bahwa Maryam juga memiliki golongan darah Para-Bombay. Akhirnya, Maryam diperiksa lebih detail. Hasilnya tidak jauh berbeda dengan sang ibu.

Mendengar hal itu, Rini langsung bersedih. Dia dan suami yang sejak awal tahu golongan darah itu langka hanya bisa pasrah. Namun, bantuan dari berbagai pihak membuat pasangan itu bangkit. Rini dan Taufiq langsung membuat poster dan pengumuman melalui media sosial untuk mencari orang dengan golongan darah yang sama.


Singapura tak mau menolong.
PMI memberi data bahwa hanya ada satu orang Indonesia yang memiliki golongan darah tersebut. Celakanya, orang tersebut ada di Eropa dan tak bisa dihubungi. Pencarian pun terus berlanjut. Akhirnya, dia memperoleh informasi bahwa ada salah seorang warga Singapura yang memiliki golongan darah yang sama dengan dirinya dan putri kecilnya itu.

Ironis, Pemerintah Singapura tidak memberikan izin. Sebab, golongan darah itu langka. Mereka berdalih akan digunakan untuk dalam negeri sendiri.

Alternatif lain muncul dari PMI. reka menuturkan, menurut literatur, sangat mungkin si anak bisa ditransfusi dengan golongan darah O Bombay. Tapi, saat dicoba, hasilnya gagal. Darah kembali tidak cocok.

 


Keadaan itu kontan memaksa semua kepala kembali berpikir untuk mencari jalan keluar. Hingga akhirnya, PMI menyarankan untuk mencoba dari keluarga terdekat. Rini mengaku sangat ingin mendonorkan darahnya. Tapi, dokter melarang. Sebab, setelah menjalani operasi Caesar, darah Rini masih rendah.

Sampai akhirnya Rini teringat pada adiknya yang tinggal di desa. Singkat cerita, si adik pun dipanggil ke Jakarta. Darah sang adik ternyata cocok dengan darah anak perempuan Rini. Kejadian itu sangat mencengangkan. Sebab, golongan darah sang adik bukan A+ Para-Bombay, tapi bisa cocok dengan darah Maryam. "PMI juga sangat kaget. Padahal A+, bukan Para-Bombay. Hingga kini belum ada penjelasan detail. Hanya dugaan kedekatan kekerabatan sehingga darahnya cocok," katanya.

Transfer exchange langsung dilakukan dokter. Dengan sangat hati-hati tukar darah itu dilaksanakan pada hari kelima setelah kelahiran Maryam. Menurut Rini, proses tukar darah itu dilakukan secara bertahap. Dokter masih mengantisipasi adanya penolakan yang mungkin muncul saat darah sang paman masuk ke dalam tubuh Maryam. "Alhamdulillah, bilirubinnya turun dan tidak ada penolakan," ungkapnya bahagia.




Para Bombay dari India
Golongan darah ini sebenarnya paling banyak ditemukan di India. Nama Bombay diambil dari peristiwa pertama ditemukannya golongan darah ini. Selain di India, golongan darah tersebut cukup banyak ditemukan di daratan Eropa.

Untuk Indonesia, hingga saat ini tercatat hanya tiga orang yang memiliki golongan darah tersebut. Seorang tengah berada di Eropa serta dua lainnya adalah Rini dan putri mungilnya.

Menurut Wakil Direktur Pelayanan Transfusi Darah PMI Pusat Ria Syafitri,   golongan darah itu sebenarnya cukup banyak di Indonesia. Hanya, hingga kini belum terdeteksi. Bisa jadi mereka belum pernah menjalani tes dan belum memerlukan transfusi darah.

Golongan darah ini berbeda dengan golongan darah umumnya. Jika biasanya antigen yang ditemukan dalam golongan darah normal adalah H besar, pada golongan darah Para-Bombay, antigennya berupa h kecil sehingga tidak bisa dikasih yang biasa.










 






Apakah Menjadi Kaya Bisa Membuat Diri Anda Bahagia?

Setiap orang ingin menjadi kaya, tapi apakah menjadi kaya dapat membuat kita bahagia? Orang-orang kaya berikut ini menceritakan pengalaman mereka apakah uang memang dapat membuat mereka bahagia atau tidak.

Kekayaan dan kebahagiaan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada sebuah contoh nyata yang terkait hal ini, yakni kepada Evan Spiegel, CEO muda Snapchat. Snapchat sendiri adalah sebuah aplikasi yang memperbolehkan Anda memfoto apapun kemudian mengirimkannya ke teman-teman Anda hanya untuk dilihat sekilas saja.


Spiegel mendapatkan tawaran dari Facebook untuk akuisisi Snapchat senilai 3 miliar US Dollar atau setara dengan 36,7 Triliun Rupiah dan ia menolak tawaran itu.

Orang-orang yang mengetahui hal ini mengatakan bahwa Spiegel gila. Namun jika kita melihat latar belakang Spiegel, banyak orang dari industri teknologi mengerti akan situasinya dan menghargai keputusan Spiegel itu.

Spiegel sendiri datang dari keluarga yang kaya. Ayahnya tinggal di salah satu komplek paling mahal di Los Angeles dan Spiegel sendiri juga dapat menjual beberapa sahamnya di Snapchat untuk jutaan US Dollar.

Jadi kenyataannya, Spiegel bukan mengatakan 'tidak' kepada kekayaan namun ia memang sudah kaya 'dua kali'.

Lalu apa hasil dari kekayaannya itu? Hasilnya adalah ia memiliki kesempatan menjalankan perusahaan global dengan resiko kecil dan beban pikiran yang ringan. Dari sini kita mengetahui bahwa hubungan kekayaan dan kebahagiaan itu tidak semudah yang kita bayangkan.

Berikut ini adalah bagaimana para orang kaya mendeskripsikan hubungan tersebut. Semua sumber ini didapat dari pembicaraan mereka di Quora. Perlu diketahui semua gambar di bawah hanyalah gambar ilustrasi dan bukan foto dari orang terkait.

1. Uang tidak membuat Anda bahagia, hubungan sesamalah yang memberikannya


Lawrence Sinclair pernah bekerja menjadi ahli ekonomi selama beberapa tahun dan ia tumbuh besar di lingkungan para diplomat dengan kekayaan yang dapat dibilang melebihi banyak orang.

Sinclair mengatakan bahwa dirinya tidak percaya akan argumen hedonistik mengenai kekayaan. Ia mengatakan bahwa semaki banyak uang yang Anda miliki maka akan semakin banyak uang yang dibutuhkan agar Anda mencapai tingkat kekayaan tertentu.

Kekayaan datang dari relasi Anda dengan sesama dan kualitas hubungan tersebut. Ia meragukan bahwa para ahli ekonomi saja pasti kesulitan untuk menggambarkan secara tepat hubungan kekayaan dan kebahagiaan.


2. Sesudah Anda kaya, Anda akan menerimanya begitu saja, seperti Anda menerima orang tua Anda dari lahir


Webb mengatakan bahwa menjadi kaya terasa seperti keberuntungan Anda dalam hidup. Seakan-akan seperti seseorang mempunyai anak yang cantik dari kekasih yang mengagumkan atau orang tua yang luar biasa. Bagi dirinya, ia mengatakan bahwa sampai sekarang ia belum menemukan bagaimana kekayaan dapat membuat dirinya bahagia.


3. Mempunyai banyak uang membuat diri Anda menginginkan lebih

 

James Altucher mengatakan dirinya telah mengalami naik turun yang cukup ekstrim dalam 20 tahun belakangan dan ia mengenal beberapa kenalan akan orang-orang kaya yang mendeskripsikan diri mereka sebagai orang yang 'merasa aman dan tidak dapat disentuh'.

Salah satu orang yang mengatakan hal ini tiba-tiba terkena kanker dan setelah bertahun-tahun melawan kanker ia bunuh diri dengan menembak dirinya.

Altucher sendiri mendeskripsikan kekayaan sebagai perasaan kekurangan. Ia berpikir bahwa jika dirinya dapat menghasilkan 10 juta US Dollar atau sekitar 122 Miliar Rupiah dengan mudah maka orang lain mungkin sudah memiliki 11 Juta US Dollar atau sekitar 134 Miliar Rupiah. Dirinya merasa miskin lagi dan ia berpikir membutuhkan lebih banyak lagi untuk kaya.


4. Saat orang kaya mendekati ajalnya, mereka tidak bangga akan kekayaan mereka dan menyesali banyak hal


Mona Nomura terlahir dalam keluarga yang kaya dimana ia sendiri tidak menyadari kelebihannya itu hingga saat ia masuk ke dalam sekolah negeri dan menjadi lebih dewasa.

Saat ia masuk ke sekolah negeri, dirinya sangatlah berbeda dibandingkan teman-temannya yang lebih berkekurangan. Oleh karena itu ia berbohong agar dapat berbaur dengan teman-teman sekolahnya yang keluarganya tidak seberuntung dirinya.

Singkat cerita, orang tuanya bercerai dan ibunya yang mencapai kekayaan setelah sukses dari bawah menderita kanker stadium 4. Ibunya menghabiskan sisa-sisa waktunya menyesali berbagai keputusan yang telah ia ambil dan menyalahkan dirinya akan hal itu.

Dalam diari ibunya, ia menyebutkan bahwa betapa dirinya tidak bersyukur akan berbagia hal dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak ada dalam kelebihan materi.


5. Menjadi kaya membuat diri Anda berpikir Anda lebih pintar dan lebih baik dibandingkan orang-orang lain di dunia, dan itu membuat diri Anda merasa baik


Seorang anonim di Quora mengatakan telah merasakan naik turun saat umurnya memasuki kepala 2 dan sebelum berkepala 3 telah menghasilkan 10 Juta US Dollar atau sekitar 122 Miliar Rupiah.

Pada awalnya ia merasakan kesenangan akan hal itu namun sekarang itu sudah menjadi biasa dan ia merasa yang membuat dirinya merasa kaya adalah anak-anaknya.

Selain itu, ia mengatakan keuntungan lainnya adalah merasa senang telah menghasilkan uang banyak dan melihat orang lain di dunia lebih rendah, Anda dapat keluar dari sistem yang sudah ada dan uanglah yang memberikan Anda hal itu.


6. Terkadang Anda berpikir bahwa Anda adalah Tuhan


Igor Atakhanov tumbuh besar dalam keluarga yang kaya sejak lama dan hidup dalam kehidupan dimana merendahkan orang lain adalah sebuah kebiasaan saat dirinya kecil. Saat masih kecil, ia mengatakan ke anak-anak lainnya bahwa dirinya memang Tuhan. Ini karena ia diperlakukan layaknya Tuhan dalam keluarganya.

Walaupun perasaan ini telah ditinggalkannya seiring ia bertumbuh dewasa, namun tidak bagi Ayahnya. Ayahnya akan memberitahukan dirinya bahwa mereka terlahir berdarah biru (bangsawan).

Namun Atakhanov sendiri melihat Ayahnya sebagai salah satu orang paling kasihan yang pernah dikenalnya karena ayahnya akan sering duduk di ruangannya dengan depresi konstan.


7. Menjadi kaya membuat resiko kehidupan berkurang


Josh Kerr pernah menjadi eksekutif 3 startup dan merupakan seorang investor. Ia mendeskripsikan kekayaan membuat resiko dalam kehidupan berkurang.

Jika ia sakit, ia akan pergi ke dokter terbaik. Jika ia ingin melakukan investasi properti, ia berani melakukan investasi karena kerugian tidak akan berpengaruh terhadap dirinya. Ia dapat mempunyai 5 anak dan ia tahu kelima-limanya akan masuk kuliah.

Dengan menjadi kaya, Kerr dapat berani dalam pekerjaannya dan mengambil keputusan atas berbagai keputusan yang tidak dapat diambil orang lain.

Itu juga berarti ia berani terhadap atasannya dan atasannya akan berpikir bahwa ia sebagai orang yang berharga. Ini semua karena ia memiliki uang sebagai tempat bersandar walaupun jika ia dipecat.


8. Sesudah Anda kaya, Anda akan merasakan perasaan yang sama dengan sebelumnya


Seorang anonim mendeskripsikan kekayaan adalah hal yang sederhana. Sesudah beberapa bulan akan kekayaan, Anda akan terbiasa akan hal itu dan menjadi orang yang sama dengan sebelumnya saat Anda belum kaya.


Sumber :
tahupedia

Apakah Menjadi Kaya Bisa Membuat Diri Anda Bahagia?

Setiap orang ingin menjadi kaya, tapi apakah menjadi kaya dapat membuat kita bahagia? Orang-orang kaya berikut ini menceritakan pengalaman mereka apakah uang memang dapat membuat mereka bahagia atau tidak.

Kekayaan dan kebahagiaan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada sebuah contoh nyata yang terkait hal ini, yakni kepada Evan Spiegel, CEO muda Snapchat. Snapchat sendiri adalah sebuah aplikasi yang memperbolehkan Anda memfoto apapun kemudian mengirimkannya ke teman-teman Anda hanya untuk dilihat sekilas saja.


Spiegel mendapatkan tawaran dari Facebook untuk akuisisi Snapchat senilai 3 miliar US Dollar atau setara dengan 36,7 Triliun Rupiah dan ia menolak tawaran itu.

Orang-orang yang mengetahui hal ini mengatakan bahwa Spiegel gila. Namun jika kita melihat latar belakang Spiegel, banyak orang dari industri teknologi mengerti akan situasinya dan menghargai keputusan Spiegel itu.

Spiegel sendiri datang dari keluarga yang kaya. Ayahnya tinggal di salah satu komplek paling mahal di Los Angeles dan Spiegel sendiri juga dapat menjual beberapa sahamnya di Snapchat untuk jutaan US Dollar.

Jadi kenyataannya, Spiegel bukan mengatakan 'tidak' kepada kekayaan namun ia memang sudah kaya 'dua kali'.

Lalu apa hasil dari kekayaannya itu? Hasilnya adalah ia memiliki kesempatan menjalankan perusahaan global dengan resiko kecil dan beban pikiran yang ringan. Dari sini kita mengetahui bahwa hubungan kekayaan dan kebahagiaan itu tidak semudah yang kita bayangkan.

Berikut ini adalah bagaimana para orang kaya mendeskripsikan hubungan tersebut. Semua sumber ini didapat dari pembicaraan mereka di Quora. Perlu diketahui semua gambar di bawah hanyalah gambar ilustrasi dan bukan foto dari orang terkait.

1. Uang tidak membuat Anda bahagia, hubungan sesamalah yang memberikannya


Lawrence Sinclair pernah bekerja menjadi ahli ekonomi selama beberapa tahun dan ia tumbuh besar di lingkungan para diplomat dengan kekayaan yang dapat dibilang melebihi banyak orang.

Sinclair mengatakan bahwa dirinya tidak percaya akan argumen hedonistik mengenai kekayaan. Ia mengatakan bahwa semaki banyak uang yang Anda miliki maka akan semakin banyak uang yang dibutuhkan agar Anda mencapai tingkat kekayaan tertentu.

Kekayaan datang dari relasi Anda dengan sesama dan kualitas hubungan tersebut. Ia meragukan bahwa para ahli ekonomi saja pasti kesulitan untuk menggambarkan secara tepat hubungan kekayaan dan kebahagiaan.


2. Sesudah Anda kaya, Anda akan menerimanya begitu saja, seperti Anda menerima orang tua Anda dari lahir


Webb mengatakan bahwa menjadi kaya terasa seperti keberuntungan Anda dalam hidup. Seakan-akan seperti seseorang mempunyai anak yang cantik dari kekasih yang mengagumkan atau orang tua yang luar biasa. Bagi dirinya, ia mengatakan bahwa sampai sekarang ia belum menemukan bagaimana kekayaan dapat membuat dirinya bahagia.


3. Mempunyai banyak uang membuat diri Anda menginginkan lebih

 

James Altucher mengatakan dirinya telah mengalami naik turun yang cukup ekstrim dalam 20 tahun belakangan dan ia mengenal beberapa kenalan akan orang-orang kaya yang mendeskripsikan diri mereka sebagai orang yang 'merasa aman dan tidak dapat disentuh'.

Salah satu orang yang mengatakan hal ini tiba-tiba terkena kanker dan setelah bertahun-tahun melawan kanker ia bunuh diri dengan menembak dirinya.

Altucher sendiri mendeskripsikan kekayaan sebagai perasaan kekurangan. Ia berpikir bahwa jika dirinya dapat menghasilkan 10 juta US Dollar atau sekitar 122 Miliar Rupiah dengan mudah maka orang lain mungkin sudah memiliki 11 Juta US Dollar atau sekitar 134 Miliar Rupiah. Dirinya merasa miskin lagi dan ia berpikir membutuhkan lebih banyak lagi untuk kaya.


4. Saat orang kaya mendekati ajalnya, mereka tidak bangga akan kekayaan mereka dan menyesali banyak hal


Mona Nomura terlahir dalam keluarga yang kaya dimana ia sendiri tidak menyadari kelebihannya itu hingga saat ia masuk ke dalam sekolah negeri dan menjadi lebih dewasa.

Saat ia masuk ke sekolah negeri, dirinya sangatlah berbeda dibandingkan teman-temannya yang lebih berkekurangan. Oleh karena itu ia berbohong agar dapat berbaur dengan teman-teman sekolahnya yang keluarganya tidak seberuntung dirinya.

Singkat cerita, orang tuanya bercerai dan ibunya yang mencapai kekayaan setelah sukses dari bawah menderita kanker stadium 4. Ibunya menghabiskan sisa-sisa waktunya menyesali berbagai keputusan yang telah ia ambil dan menyalahkan dirinya akan hal itu.

Dalam diari ibunya, ia menyebutkan bahwa betapa dirinya tidak bersyukur akan berbagia hal dan menyadari bahwa kebahagiaan tidak ada dalam kelebihan materi.


5. Menjadi kaya membuat diri Anda berpikir Anda lebih pintar dan lebih baik dibandingkan orang-orang lain di dunia, dan itu membuat diri Anda merasa baik


Seorang anonim di Quora mengatakan telah merasakan naik turun saat umurnya memasuki kepala 2 dan sebelum berkepala 3 telah menghasilkan 10 Juta US Dollar atau sekitar 122 Miliar Rupiah.

Pada awalnya ia merasakan kesenangan akan hal itu namun sekarang itu sudah menjadi biasa dan ia merasa yang membuat dirinya merasa kaya adalah anak-anaknya.

Selain itu, ia mengatakan keuntungan lainnya adalah merasa senang telah menghasilkan uang banyak dan melihat orang lain di dunia lebih rendah, Anda dapat keluar dari sistem yang sudah ada dan uanglah yang memberikan Anda hal itu.


6. Terkadang Anda berpikir bahwa Anda adalah Tuhan


Igor Atakhanov tumbuh besar dalam keluarga yang kaya sejak lama dan hidup dalam kehidupan dimana merendahkan orang lain adalah sebuah kebiasaan saat dirinya kecil. Saat masih kecil, ia mengatakan ke anak-anak lainnya bahwa dirinya memang Tuhan. Ini karena ia diperlakukan layaknya Tuhan dalam keluarganya.

Walaupun perasaan ini telah ditinggalkannya seiring ia bertumbuh dewasa, namun tidak bagi Ayahnya. Ayahnya akan memberitahukan dirinya bahwa mereka terlahir berdarah biru (bangsawan).

Namun Atakhanov sendiri melihat Ayahnya sebagai salah satu orang paling kasihan yang pernah dikenalnya karena ayahnya akan sering duduk di ruangannya dengan depresi konstan.


7. Menjadi kaya membuat resiko kehidupan berkurang


Josh Kerr pernah menjadi eksekutif 3 startup dan merupakan seorang investor. Ia mendeskripsikan kekayaan membuat resiko dalam kehidupan berkurang.

Jika ia sakit, ia akan pergi ke dokter terbaik. Jika ia ingin melakukan investasi properti, ia berani melakukan investasi karena kerugian tidak akan berpengaruh terhadap dirinya. Ia dapat mempunyai 5 anak dan ia tahu kelima-limanya akan masuk kuliah.

Dengan menjadi kaya, Kerr dapat berani dalam pekerjaannya dan mengambil keputusan atas berbagai keputusan yang tidak dapat diambil orang lain.

Itu juga berarti ia berani terhadap atasannya dan atasannya akan berpikir bahwa ia sebagai orang yang berharga. Ini semua karena ia memiliki uang sebagai tempat bersandar walaupun jika ia dipecat.


8. Sesudah Anda kaya, Anda akan merasakan perasaan yang sama dengan sebelumnya


Seorang anonim mendeskripsikan kekayaan adalah hal yang sederhana. Sesudah beberapa bulan akan kekayaan, Anda akan terbiasa akan hal itu dan menjadi orang yang sama dengan sebelumnya saat Anda belum kaya.


Sumber :
tahupedia

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More